Jumat, 22 Februari 2019

Bunda Wajib Tahu 10 Faktor Penghambat Perkembangan Janin

| 08.21 |
10 Faktor Penghambat Perkembangan Janin

Cara Agar Cepat Hamil - Perkembangan janin sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang seimbang, di antaranya vitamin dan mineral penting bagi tubuh. Berbagai bentuk olahraga khusus wanita hamil juga dapat membantu kelancaran pembentukan sel-sel dan organ-organ penting dalam janin.

Namun itu saja tidak cukup. Menjauhi hal-hal yang berisiko tinggi terhadap perkembangan janin juga perlu dilakukan.Tanpa disadari, kadangkala kebiasaan sepele dapat memengaruhi perkembangan janin dalam kandungan bunda.

Perkembangan janin berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu tahap pre-embrionik (berawal dari pertemuan sel sperma dan sel telur hingga terjadinya proses nidasi atau tertanamnya bakal janin pada dinding rahim, usia kehamilan 4—5 minggu); tahap embrionik (proses pembentukan organ, usia kehamilan 5—10 minggu), dan tahap fetus (masa penyempurnaan organ, usia kehamilan 10 minggu sampai persalinan terjadi).

Nah, agar janin di rahim bunda dapat tumbuh dan dan berkembang optimal, sangat penting untuk meniadakan faktor penghambatnya. Untuk itu, kenali 10 faktor penghambat perkembangan janin berikut ini, ya Bun!

Penghambat Tahap Pre-embrionik

1.  Ketidaksempurnaan pada janin di tahap ini dapat meningkatkan kejadian  keguguran atau tidak berkembangnya bayi. Kelainan kromosom, infeksi,  hingga faktor gizi bisa menghambat proses ini hingga menimbulkan  keguguran dan kematian mudigah (kematian bakal janin di kandungan yang  diduga karena adanya masalah kelainan kromosom sehingga perlu dilakukan  tindakan kuretase).

2. Kurangnya asupan asam folat  akibat terlambat mengonsumsi asam folat selama kehamilan dapat  meningkatkan risiko cacatnya tempurung kepala dan tulang punggung bayi.  Selain itu, infeksi aktif toksoplasma berpotensi menimbulkan cacat  hingga keguguran.

3. Obesitas meningkatkan proses  peradangan pada sel-sel tubuh. Hal ini meningkatkan produksi radikal  bebas yang juga berpotensi menimbulkan gangguan pada saat proses nidasi.

4. Penyakit tertentu dalam kehamilan dapat menimbulkan cacat janin, sehingga pemberian vaksinasi, seperti varicella dan MMR (Measles, Mumps, Rubella) perlu diberikan kepada pasutri yang sedang merencanakan kehamilan.

Penghambat Tahap Embrionik

5.  Kekurangan ataupun kelebihan gizi yang dbundatuhkan di tahap ini  (seperti: asam folat, AA/DHA, zink, magnesium, kalsium, fosfor, zat  besi, tembaga, dan vitamin lain, seperti vitamin A, B, dan D) dapat  meningkatkan risiko kecacatan pada bayi. Contoh, vitamin A berlebih  dapat bersifat teratogenik atau menimbulkan cacat pada bayi, sementara  kekurangan asam folat dapat menimbulkan kecacatan pada tempurung kepala  dan tulang punggung. Beberapa hal lain, seperti penyakit autoimun dan  infeksi pada mamil, dapat pula membahayakan pertumbuhan janin.

6.  Pada masa ini kehamilan memerlukan hormon-hormon penting untuk  menyokongnya, yang terpenting adalah progesteron. Kekurangan hormon ini  akan menimbulkan terjadinya keguguran pada trimester pertama.

Penghambat Tahap Fetus

7.  Demam yang dialami mamil dapat meningkatkan beberapa risiko pada bayi,  seperti: autisme dan kematian. Karena itu, Ma, selalu waspadai demam  dalam kehamilan dan segera ke dokter bila bunda mulai merasakan  peningkatan suhu tubuh di atas normal.

8. Infeksi  dalam kehamilan, seperti: campak, campak jerman, dan cacar air, sering  kali berdampak pada bayi. Vaksinasi sebelum kehamilan menjadi salah satu  cara untuk mencegahnya. Bahkan, saat ini vaksin influenza juga boleh  diberikan pada mamil. Beberapa infeksi menular seksual, seperti: chlamydia, trichomoniasis, dan bacterial vaginosis,  bisa menular kepada janin atau menimbulkan pertumbuhan janin terlambat.  bunda perlu mewaspadainya mengingat infeksi menular seksual kadang tanpa  disertai gejala sama sekali, sehingga hanya tindakan kultur  (laboratorium) dan atau pemeriksaan darah yang bisa dilakukan untuk  mengetahui ada atau tidaknya infeksi tersebut.

9.  Keputihan merupakan salah satu bentuk infeksi dan berpotensi  membahayakan janin. Keputihan saat hamil bisa dibilang normal selama tak  disertai perubahan bentuk, warna, jumlah, bau, dan gatal. Penyebabnya  sangat bervariasi, mulai infeksi bakteri, virus, hingga jamur. Keputihan  sebaiknya diperiksa di laboratorium (kultur) sebelum dilakukan  pengobatan agar dapat diberikan obat sesuai jenis kumannya.

10.  Pola hidup tak sehat dan masalah lain, semisal, kelainan autoimun,  dapat menurunkan fungsi plasenta. Dampak dari penurunan fungsi plasenta  sebelum waktunya akan menghambat tumbuh kembang janin. Untuk mengetahui  ada-tidaknya penurunan fungsi plasenta dapat dicek dengan USG sejak  akhir trimester ke-2 kehamilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top