Sabtu, 06 April 2019

10 Mitos Kanker Serviks yang Bikin Salah Kaprah

| 16.51 |
Layaknya penyakit lain, kanker serviks juga diselimuti oleh berbagai mitos yang bikin banyak orang salah kaprah. Cari tahu kebenarannya!


Kanker serviks masih menjadi penyebab kematian terbanyak ketiga pada wanita Indonesia. Di tahun 2017, Indonesia bahkan menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dengan kasus kanker serviks paling banyak. Salah satu hal yang dicurigai berkontribusi pada terjadinya kondisi tersebut adalah beredarnya mitos tidak benar mengenai penyakit yang disebabkan oleh virus HPV itu.

Jangan sampai tertipu lagi, inilah 10 mitos seputar kanker serviks beserta fakta medis yang sebenar-benarnya:

Mitos 1: Infeksi HPV hanya dialami oleh wanita
Kanker serviks memang bermula dari infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Tapi faktanya virus ini sebenarnya tidak hanya menginfeksi wanita, tapi juga pria. Pada pria yang mengalami infeksi HPV, dirinya berisiko untuk mengalami kutil kelamin atau kanker lain, seperti kanker penis, anus, dan tenggorok.

Mitos 2: Hanya wanita dengan banyak pasangan seksual yang dapat terinfeksi HPV
Banyak yang mengira bahwa wanita yang punya banyak pasangan seksual lebih rentan terhadap infeksi HPV, yang berujung pada kanker serviks. Padahal faktanya setiap wanita yang telah aktif secara seksual, meski hanya dengan satu pasangan, dapat terpapar HPV, yang ujungnya adalah kanker serviks. Karena pada dasarnya, HPV adalah virus yang sangat umum. Statistik menyebutkan bahwa sekitar 8 dari 10 wanita akan mengalami infeksi HPV pada satu titik sebelum berusia 50 tahun.

Mitos 3: Infeksi HPV hanya ditularkan melalui hubungan intim
Cara utama penularan HPV memang melalui hubungan intim, karenanya tergolong sebagai infeksi menular seksual. Akan tetapi, virus tersebut juga bisa menyebar melalui kontak kulit dengan kulit tanpa adanya hubungan intim.

Mitos 4: Jika terinfeksi HPV, artinya sudah pasti akan mengalami kanker serviks
Para pakar telah menemukan, lebih dari 100 tipe virus HPV dimana 14 di antaranya dianggap berisiko tinggi menyebabkan kanker. Dari jumlah ini, hanya 2 jenis virus HPV, yakni tipe 16 dan 18, yang diketahui menyebabkan kanker serviks. Jadi, tak semua infeksi HPV akan berujung pada kanker serviks.

Mitos 5: Kanker serviks bersifat diturunkan
Tidak seperti kanker payudara atau kanker ovarium, faktanya kanker serviks bukanlah penyakit keturunan. Ini karena kanker serviks disebabkan oleh adanya infeksi HPV tipe 16 atau 18, yang umumnya terjadi akibat perilaku seksual tidak sehat.

Mitos 6: Kanker serviks hanya terjadi di negara berkembang
Kanker serviks dapat dialami oleh wanita di berbagai negara, baik di negara maju maupun berkembang. Namun, memang, kasus kanker serviks lebih banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini karena belum ada program deteksi dini kanker yang terkelola dengan baik.

Mitos 7: Kanker serviks tidak dapat dicegah
Layaknya penyakit pada umumnya, kanker serviks sangat bisa dicegah. Deteksi dini seperti pap smear dan tes HPV dapat menemukan sel-sel abnormal dalam serviks sebelum berubah menjadi kanker. Berikutnya, bisa diambil langkah pengobatan dini sehingga perkembangan kanker serviks dapat dicegah.

Selain itu, kini juga sudah tersedia vaksinasi HPV yang bisa diberikan sejak anak berusia 9 tahun. Risiko kanker serviks juga dapat dikurangi dengan menghindari rokok dan paparan asapnya, tidak berhubungan intim dengan banyak pasangan, serta tidak melakukan hubungan intim di usia yang terlalu muda.

Mitos 8: Deteksi dini kanker serviks tidak diperlukan jika tidak mengalami keluhan
Deteksi dini justru sangat penting dilakukan untuk menemukan kelainan pada orang sehat yang tidak mengalami keluhan apa-apa. Ini karena perubahan abnormal pada sel serviks tidak bisa dirasakan maupun dilihat oleh yang bersangkutan, sehingga hanya bisa diselidiki melalui pemeriksaan. Jadi, periksakan diri sebelum keluhan muncul adalah yang terbaik.

Mitos 9: Deteksi dini kanker serviks perlu dilakukan setiap tahun
Deteksi dini kanker serviks dilakukan melalui pap smear dan tes HPV. Jika hasil keduanya normal, maka pemeriksaan tidak perlu dilakukan setiap tahun.

Berikut panduannya sesuai usia:

21–29 tahun: pap smear setiap 3 tahun
30–64 tahun: pap smear dan tes HPV setiap 5 tahun
65 tahun ke atas: konsultasikan dengan dokter, apakah pap smear dan tes HPV perlu dilanjutkan

Mitos 10: Kanker serviks tidak bisa disembuhkan
Selain mencegah timbulnya kanker, deteksi dini juga dapat membantu menemukan kanker serviks pada stadium dini dimana pengobatan paling efektif. Selama belum mencapai stadium IIB, peluang sembuh dari kanker serviks terolong sangat tinggi. Dengan deteksi dini, angka harapan hidup bahkan mencapai 92% dalam waktu 5 tahun setelah terdiagnosis.

Setelah mengetahui berbagai fakta di balik mitos seputar kanker serviks, diharapkan Anda bisa lebih bijak dalam menyikapi segala informasi yang didapatkan. Jangan mudah termakan pendapat orang sampai Anda bertanya pada ahlinya. Dalam hal kanker serviks, konsultasikan langsung segala pertanyaan dengan dokter yang Anda percayai. Meski tampak sepele, hoaks, mitos, dan hal-hal menyimpang lain yang ada di mana saja dapat memengaruhi persepsi dan merugikan kondisi kesehatan Anda di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top